By: Yan Toupapa T.
Ketika tiba malam keakraban keluarga kami. Malam itulah kesempatan kami untuk duduk bersama sambil melepaskan tanda-tawa, rindu, dan saling memberi nasehat. Namun di tengah-tengah itu, adapula yang tak bersependapat sehingga kerusuhan itu bisa saja muncul. Ya itulah kami. Tapi kami bukan separatis. penyedar, teroris, dan perampas seperti yang terjadi di gunung cartenz yang mengeksploitasi emas bertong-tong. Dan mengantar ke tiga puluh dua negara. Sementara mata warga pribumi ditutupi. Dikerja paksa seperti sepupuh-ku "alm" Ausilius yang bekerja di PT. Freeport milik Allen Dulles sebagai kepala CIA "Central Intelligence Agent of America". Dan ia adalah otak dari perang dunia I dan II. Sementara, Dulles juga menjabat sebagai kepala CIA selama tujuh kepresiden sampai Jhon F. Kennedy. Dan di sisi lain, ia juga membunuh semua para tokoh politik dunia termasuk Kennedy. Tak lupah juga salah satu pemilik gunung bersalju di daerah tropis itu adalah Indonesia. Sekalipun gunung itu berada di kampung halaman kami. Hal inilah, pada akhirnya Soekarno jadi korban. Kemudian Soeharto jadi presiden Indonesia. Saatnitulah, momen emas bagi Allen untuk bereksploitasi emas melalui Soeharto. Namun sayang, Soeharto juga bagian dari korban sekalipun nyawanya tak hilang pada waktu itu.
"Haa! Maaf saja, kalau aku berahli ke jalan cerita lain!" batin-ku.
Aku masih trauma. Ketika melihat anak-anak di sekeliling kaki gunung perut emas itu, datang berbondong-bondong menapis ampas emas di ujung Air port Moses Kilangin dan di pinggir laut Arafuru. Namun mereka diusir paksa. Ditembak mati. Dikroyok dan di seret oleh sekelompok kodok danau, aku menyebutnya. Tubuh-tubuhnya berdarah. Kejadian itu tak ada bedanya dengan kk Alm Yohanes yang telah dibunuh oleh sekelompok orang di pinggir Danau Tage. Suara-suara terikannya masih ku-dengar dan termemori hingga kini. Sangat gampang ku-menyebut dalam batin-ku. Hingga detakan jantung dan gugupan tubuh-ku pun selalu terjadi ketika kembali pada masa itu. Terikan-terikan itu sulit dihilangkan.
"Jangan rampas harta kami!"
"Jangan sedot darah kami!"
Seperti itulah beberapa terikan yang aku masih tangkap. Maaf! Bila aku salah nalar. Sebab aku hanya masih trauma bila mengenang nemori buruk itu. Dan oleh siapa yang melakukannya? Aku masih bertanya-tanya.
Tiba-tiba aku disadarkan oleh suara nyanyian yang sangat lembut dan merduh laksana suaranya teman-ku Lucy Dube, yang berjuang untuk kebebasan bagi warga Africa. Aku mulai berpikir, bahwa kenapa aku berada di tempat ini? dan apa tugas-ku?
"Wah pasti asik! Terus, apa ya tugas-ku?" Tanya-ku kumur-kumur
"Ooh ya! "
(1) Kontrol makanan
(2) koordinasi tempat penginapan Rivel Hill.
"Haa! Untung saja masih bisa ku-tebak," batin-ku
Saat itu angin Tawangmangu datang menemani para mahasiswa dan mahasiswi IPMANAPANDODE se- Jawa dan Bali sejak lima hari yang lalu hingga kini. Di tengah-tengah itu, di hiasi situasi aroma sang pebebus manusia, sehingga semuanya bersahabat tanpa memandang satu mata. Memang saat itu, tiada noda bagai Surga jatuh ke bumi. Di samping itu, di setiap sudut ada beribu pohon cemara. Bergoyang bersama mencoba memberikan kesejukan, sembari mewarnai alam yang asri, indah dan bersih. Tak mau kalah juga suara nyanyian merduh pun ikut campur, yang tadinya menyadarkan-ku dari lupa-ingatan.
"Yaa! Di sinilah tempat memulihkan memori-ku," batin-ku
Ada suara jam. Ku-tengok di dinding tembok. Ku-dapati sebuah jam alroji. Jam dinding terkeren yang pernah ku-jumpahi dalam sejarah hidup-ku. Mungkin itu milik pemilik Rivel Hill sapa saja Ibu Nanto . Jam berlalu cepat, sesaat ku-mengamati jam terkeren itu. Aku merasa capek! Tapi waktu pun terus berjalan, detik berganti menit. Menit berganti jam. Jam berganti hari. Hari berganti pekan. Pekan berganti bulan. Bulan berganti tahun. Tahun berganti tahun baru. Namun mata masih saja menyalah, walau kedua warna bola mata berubah menjadi merah sejak hari pertama. Mungkin saja atas berkat udara segar. Dan angin Tawangmangu. Di tengah kesibukan. Ku-mencuri waktu. Ku-pandang Markus. Ia masih asik menikmati udara. Di sampingnya di temani oleh aroma mawar gadis manis melanesia, yang di kepalanya di hiasi rambut emas seperti Miss Universe. Yang baru-baru ini meraih julukan " the best Miss Universe in the world in 2017. Ya! Mungkin juga sebagai simbol bergaya modern. Agar tidak ketinggalan seperti teman-teman-ku di Europe, tepatnya di negara Croasia. Wajah gadis itu tak asing dalam memori-ku. Ya benar! Ia adalah gadis yang aku terima di ruang B15, sejak lima hari yang lalu sebagai tamu. Aku melangkah ke arah Yosep dan Ku-raihnya.
"Yosep ko lagi apa? Tanya-ku
"lagi sante, menikmati udara," jawab Yosep
"baru tidak mengantuk-kah?" kembali tanya-ku
"momen udara begini jarang ku-jumpahi, kawan," balas Yosep lagi
"Ooh begitu, ya sudah!" balasku dengan lembut. Karena sudah capek.
Tatapan mata dan wajah Yosep masih berpaling pada sih mawar melanesia. Mungkin saat itu, aku datang mengganggunya. AKu tengok jam. Sudah pukul 1:12 WIB tengah malam. Mustinya mereka sudah tidur. Tapi nampak wajah Yosep sangat ceriah saat itu. Apa alasannya? Sangat susah ku-tebak.
"Yosep!" kembali aku memanggilnya
Ia tak menolek. Mungkin ia marah. Bisa saja ia sedang menikmati alam Tawangmangu. Atau karena gadis idaman yang hadir bersama-sama untuk mendampinginya. Hal ini persis seperti memori sejak satu tahun lalu. Waktu itu, teman seperjuangan-ku Elias bersama gadis pujaannya di Monas Jakarta di rumah Pak Jokwi yang berdiri kokoh sejak 1945. Sejak itu aku mengaksikan malam yang indah bagi Elias dan gadisnya. Saat kami menghadiri pesta emas se-dunia. Seperti hari ini. Haa! Memang indah bagaikan pemandangan Gunung Deiyai yang berdiri tegak di kampung halaman-ku.
***
Yosep masih belum tidur. Aku membiarkannya. Tatapan indranya tajam. Mugkin karena aroma sih gadis yang masih duduk di sampingnya itu. Aku Kembali berkhayal. Pasti ia ingin merayu namun belum berani saat itu. Atau dia maluh pada-ku seperti kucing milik paman Markus. Bila di hadapan tuan rumah. Ia selalu duduk termaluh-malu. Aku ketahui hal itu dari setiap ekspresinya. Matanya mulai berkedip-kedipan ke arah gadis bagai gitar spanyol itu. Aku masih menyaksikkanya geranga itu. Yosep membekali sebatang rokok sambil senyum manis. Ya aku tahu, memang ia perokok. Tapi kali ini gayanya berbeda dari yang biasanya. Ha! Pasti itu sebagai simbol menarik perhatian si gadis lembut. Gadis yang mulanya datang menikmati pamandangan indah. Namun akhirnya hampir dirayu dan dimiliki oleh Yosep. Tapi apa benar nalarku. Yosep berbatuk. Si manis melanesia membuka mata dan memandang Yosep dengan senyuman lembut. Akhirnya Yosep berhasil mendapatkan lirikan lembut si gadis. Tanpa raguh Yosep bertanya.
"Adik! Adik pu nama siapa? "
"Maria, kaka!" jawab si mawar manis melanesia dengan lembut
"Oh..Ria," balas Yosep
"Bukan Ria, kaka tapi Maria!" ulang Maria.
"Baru kaka pu nama?" tanya Maria
"Sa pu nama Yosep!"
"Bah, benarkah kaka?"
"Iyo benar to dek" jawab Yosep
"Dek Maria su kelas berapa?"
"Su semester lima kaka."
"Oh, sayang ah!" Seruh Yosep
AKu masih menjalankan tugas sebagai kontrol makanan pada malam hari untuk menu besok harinya. Beberapa menit kemudian. Aku kembali ke tempat di mana Yosep dan Maria duduk saling menemani. Aku pandang wajah Maria. Ia semakin berserih. Mungkin mulanya ingin sapa Yosep. Namun tak selincanya seperti jari gitaris wilayah Meepago Auleman Pekei dan kawan-kawannya. Yosep tarik napas berlahan sambil memperoleh perhatian si cantik yang masih menemani selama beberapa jam. Tapi tak sempat saling sapa. Ini adalah kesempatan saling menyenal. Sekedar sebagai teman curhat. Momen itu kembali -ku-mengenang kisah gadis manis Meuwodide, yang suaranya tak kalah indahnya dengan suara pikon. Pikon yang selalu dimainkan oleh ayah di rumah tua milik kami sebagai instrument untuk membujuk-ku. Ketika aku menangis. Di masa di mana umur-ku satu sampai delapan tahu. Barangkali, ayah memainkan instrument pikon sebagai mencuri hati gadis.
Setelah satu menit berlalu. Yosep masih saja pandangannya ke Maria. Mungkin ia mau melamar sebagai teman belahan jiwa.
"Memang kenapa kaka?" Tanya balik Maria
"Kaka cuta!"
"cuta itu apa, kaka?"
"Cuma tanya aja, adik," Yosep merangkan
"Haaaa, kaka pu singkatan-singkatan nian kitong suka."
Yosep dan Maria tertawa bersamaan. Kontak batinnya memang sudah konek sejak mereka dua duduk di atas gedung B15 Rivel Hill Tawaangmangu. Aku tebak dari pandangan matanya. Aku kembali kehilangan ruang memori. Namun aku mencoba kembalikan dengan cara berdoa. Tiba-tiba Maria batuk palsu dan berseruh.
"Kaka! Saya masih sendiri. Dan tak ingin pacaran,"
"Adoh! Adek", kaka pun demikan.
"Tapi kalau adik mau, kaka sangat cinta pada adek Maria," Yosep melamar
***
Jujur. sebelumnya kaka tak ada suka sama adik. Tapi sa bermimpi bahwa Bapak saya datang lalu ia bilang " kau harus cari gadis yang bernama Maria dan tolong menikahi dia". Lalu sa bangun dan berdia. Ya Bapak! Kalau itu memang perintah-Mu pada-ku, terjadilah menurut kehendak-Mu. Tapi jangan terjadi menurut kehendak-ku" curhat Yosep.
"Bah, benarkah adek! Sungguh memang dahsyat." Seruh Yosep sambil senyum
"Ya su, kaka. Adik terima kaka. Tapi kaka janji ehh jangang putuskan sa." Tegas Maria.
"Ya! Sayang! Kaka akan jaga sampai Bapak memanggil kita,"
Akhirnya Maria menerima Yosep sebagai calon kekasih. Wajah Yosep penuh bahagia. Begitu pula pada Maria. Tiga bulan berlalu. Maria mulai hamil dan dikaruniai seorang bayi laki-laki. Yosep bingun, harus diberi nama apa untuk si putranya. Lalu ia bertanya istrinya.
"Baru mama! Kitong pu anak ni kasih nama apa eh?
"Ah, bapak! Kasih Emanuel saja!" Jawab Maria
"Bah itu nama yang bagus," Seruh Yosep sambil wajahnya penuh bahagia.
Yosep dan Maria sangat senang menerima kedatangan sang buah hati. Tidak hanya mereka berdua, tetapi bagi banyak orang di sekitar dan seluruh dunia. Sebab Dialah Sang Juruh selamat bagi manusia. Alias Tuhan Yesus anak Allah yang hadir melalui Maria dan Yosep. God bless Us Now and Forever Amen.
Ini hanya "Sedikit cerita".
Ini hanya "Sedikit cerita".


0 comments:
Post a Comment