Hasil Seminar dan Diskusi: Penting untuk Masa Depan, Rumah Sederhana Tahan Gempa

Berfose bersama usai seminar dan diskusi yang di fasilitasi oleh Ipmanab Jogja yang diikuti oleh anggota Ipmanapandode Joglo. (foto: Anse Gobai/KM)


YOGYAKARTA, IPMANAPANDODEJOGLO-ORG-- Rumah Sederhana Tahan Gempa menjadi tapik utama dalam diskusi dan seminar kali ini, Kamis (24/5/2018) bertempat di aula asrama Dogiyai, DIY. Diskusi dan Seminar ini  difasilitasi dan bertanggungjawab dari Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Nabire (Ipmanab)  Jogja  dalam naungan Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Nabire, Paniai, Dogiyai, Deiyai (Ipmanapandode) Yogyakarta-Solo.

Materi ini dibawakan oleh Yohanes Dogomo, Mahasiswa aktif di UGM Jogja, Jurusan Teknik Sipil,  yang juga sebagai anggota aktif di Ipmanapandode Joglo, dibantu oleh Fransiskus Degei sebagai Modeerator dan Agus Kudiai sebagai notulen. Diikuti sekitar 25 peserta yang juga sebgai anggota Ipmanapandode Joglo.

Diskusi ini dibuka oleh senior,  Daniel Wakei yang sedang mengayam pendidikan kedokteran di UGM dan dimuali dengan doa pembukaan oleh Niko Tigi, mahasiswa tugas belajar dari Kabupaten Nabire.

Kemudian, Moderator Fransiskus Degei,  kembali membuak diskusi dan seminar ini serta menyampaikan ucapan terimakasih atas kepercayaan yang diberikan oleh BPH Pusat kepada Ipmanab. Setelahnya waktu diberikan kepada pembawa materi, Yohanes Dogomo.

Yohanes Dogomo menyampaikan materinya dengan percaya diri dihadapan peserta. Ia juga mengajak kepada peserta yang hadir untuk menyimak  bersama terkait  sejarah singkat yang memberikan fakta terkait rumah -rumah yang tak mampu tahan gempa.

Suasana diskusi.

Hal ini ditinjauh dari pengalaman sebelumnya: Gempa Bumi Yogyakarta Mei 2006, peristiwa gempa Bumi tektonik kuat yang mengguncang Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah pada 27 Mei 2006 dengan berkekuatan 5,9 pada skala Richter. Gedung-gedung yang rusak parah. Kemudian di Nabire, Papua dengan kekuatan 6,4 SR pada tanggal 26 November 2004. Rumah-rumah warga runtuh dan jalan-jalan terbela.


Dengan ini, Yohanes meminta supaya tidak dianggap sepele. Perlu adanya kesiapan-kesiapan yang matan sebelum bangun rumah sedarhana demi keselamatan nyawa bagi penguninya sewaktu musibah itu menimpa di kemudian hari.

“Jangan anggap sepele dalam membangun rumah. Hal ini penting dalam keselamatan nyawa. Belum lagi tradegi gempa Nabire yang menewaskan sekian banyak nyawa manusia. Rumah-rumah roboh karena tak tahan terhadap gempa,” paparnya tegas di depan peserta.

Sebagai anak muda, katanya, sebelum berkeluarga rumah tahan gempa ini perlu diketahui bersama. “Walau tidak menjamin,  apakah nanti dapat tertahan atau tidak, tetapi paling tidak dapat menyelamatkan nyawa. Dan  yang paling penting adalah pemilihan materialnya,” jelasnya lagi.



Setelah pemaparan materi, moderator membuka ruang tanya-jawab.  Tanya jawab dibuka dua sesi. Sesi pertama dengan penanya 3 orang dan sesi kedua penanya 3 orang.

Kemudian akhir dari penyampaian materi, sesi tanya-jawab, Notulen, Agus Kudiai membacakan kesimpulan.

Rumah Sederhan Taham Gempa adalah salah satu cara terbaik untuk menjaga keamaan terhadap nyawa serta rumah itu sediri. Sehingga dalam membangun sebuah rumah sederhana, perlu perhatikan beberapa hal atau komponen-komponen utama dalam membangun rumah yang harus perhatikan diantaranya : 1) pondasi, 2)  Sloof, 3) Dinding, 4) Kolom, 5)  Balok Ring, 6) Balok Miring gunungan/ampig/layar/singok, dan 7) Ikatan angin.



Kemduian ada pun penyebab rumah tidak aman: 1) Kualitas bahan bangunan yang jelek, 2) Komponen bangunan penting tidak dibuat sesuai standar, 3) Ikatan antar elemen struktur & sambungan yang jelek, 4) Dibangun pada tanah yang tidak stabil.

Setelah mendapatkan materi ini dapat kita terapkan di asal kita, tentunya juga kesiapan masa depan kita. Maka perlu kita siapkan matang-matang dalam membangun sebuah rumah. Hal ini perhatian kita bersama, semoga dengan materi ini menamba wawasan kita, supaya tidak lagi melakukan kesalahan dalam pemelihan material atau pun lokasi yang tepat untuk bangun rumah demi kenyamaan dan keselamatan nyawa serta usia rumah itu sesndiri.


Setelahnya ditutup dengan Doa penutup, dipimpin oleh Daniel Gobai, kemudian dilanjutkan dengan kesan-pesan BPH Pusat, Ipmanab, serba/i makan bersama dan foto bersama.

makan bersama.


Ketua BPH Ipmanapandode Joglo, Tiyopigu M Kudiai mengapresiasi kepada pemateri, Yohanes Dogomo, Fransiskus Degei (Moderator), Agus Kudiai (Notulen) dan kepada seluruh anggota yang hadir dan Ipmanab sebagai penanggungjawab diskusi dan seminar.


“Dari kita dan untuk kita, mari kita berbagai bersama. Dari sini, tempat ini, organisasi Ipmanapandode Joglo awal untuk melangkah kedepan yang lebih baik, lebih siap untuk membangun daerah kita sengan apa yang ada pada kami saat ini,” papar Kudiai.

Saya harap, diskusi dan seminar ini terus kita bangun. Saling percaya antar satu dengan yang lain. “Berbagai ilmu kepada yang membutuhkan, membangun ruang-ruang diskusi, kasihlah ilmu kepada sesama dengan seiklas mungkin, sebaba dibalik itu ada hal-hala besar yang akan ditawarkan membuka wawasan untuk berpikir lebih luas lagi,” bebernya.



Kemudian, BPH Ipmanab Jogja, Dance Kayame mengucapkan terimakasih atas kepercayaan yang diberikan BPH Pusat dalam hal ini menyelenggarakan diskusi dan seminar bersama juga kepada pengelolah asrama Dogiyai yang telah memberikan tempat untuk menyukseskan kegiatan ini.

“Semoga materi yang disampaikan dapat berguna bagi kita yang hadir pada seminar ini,” tuturnya.


Notulen: Agus Kudiai
Share on Google Plus

About Ipmanapandode Joglo

IPMANAPANDODE JOG-LO adalah Organisasi Pelajar dan Mahasiswa Nabire,Paniai,Dogiyai dan Deiyai di Yogyakarta dan Solo.

0 comments:

Post a Comment